Arsip Blog

ANAK-ANAK KENA VIRUS MALAS!

malas1

Tidak habis pikir mengapa generasiku menjadi kian malas. Hidup berjalan begitu sia-sia. Mental anak-anak sekarang sangat beda dengan jaman aku menjadi anak-anak. Padahal jaman ini telah modern, apa-apa telah tersedia dan tidak sesederhana dulu. Tingkat gizi anak-anak sekarang boleh dibilang lebih terjamin. Tetapi semua itu tidak menjadikan anak-anak menjadi lebih berualitas. Apa yang salah dengan anak-ana kita? Coba amati tentang perangai anak-anak disekitar kita, walaupun ada yang rajin dan giat belajar, namun banyak juga yang pilih santai, nonton tv, mainan hp atau nge’games. Ironisnyapun orang tua mereka kadang tidak peka terhapdap keadaan yang sebenarnya telah meninabobokan.

Bulan ini bagi yang sedang duduk di kelas X SMP atau XII SMA menghadapi Ujian Nasional. Banyak guru sibuk dengan bedah materi-materi try out UN agar para peserta didiknya nantinya sungguh siap dan cerdas menghadapi UN. Berbagai kegiatan dilaksanakan. Mulai dari pemadatan materi, belajar kelompok, les privat, maupun berdoa mereka jalani. Harapannya adalah dapat lulus dari UN dan bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Namun usaha itu rupanya tidak sejalan dengan semangat peserta didik. Masih banyak yang malas dan cenderung pasrah, atau mengandalkan teman. Mengapa ini bisa terjadi dengan mereka? Apa yang salah dengan jaman ini?

Tak heran banyak diantara kita bertanya: “Penyakit apakah yang menjangkiti para anak-anak?” Wixen seorang pakar sosiologi, menyebutnya Disgradia. Ya, itu namanya Disgradia (bukan disgrafia). Semacam ‘virus mental’ yang membuat orang yang diserangnya lupa atau lebih tepatnya tak mau tahu tentang sejarah. Ciri-cirinya sederhana, orang yang diserangnya bersifat ahistoris, tak mau ambil pusing dengan perjuangan generasi sebelumnya.
Contoh, kalau ayahnya pejuang kemerdekaan, maka ia tidak pernah mau belajar atau menghayati betapa besar pengorbanan orangtuanya dalam memerdekakan bangsa dulunya. Contoh lain, jika ayahnya seorang yang kaya, ia tidak pernah mau ambil pusing untuk mengetahui atau menghayati perjuagan ayahnya yang membanting tulang untuk memperoleh kekayaan itu. Atau contoh lainnya tentang pejuang agama, pejuang sosial dll.
Tak mengherankan jika dua ahli sosiologi – paul B. Horton dan Chester L. Hunt – pernah memberi wejangan:
“Jangan kira semua anak orang kaya bisa berhasil”
Artinya limpahan fasilitas bukanlah jaminan keberhasilan. Tidak sedikit kan orang yang awalnya “hidup susah” menjadi orang sukses di masa mendatangnya? Peyakit mental ahistoris semacam inilah yang mulai menyerang generasi muda sekarang,kalau sudah diserang, kepada siapa lagi tumpuan harapan masa depan negara dan agama kita letakkan ?
Rasanya sulit sekali membayangkan kejayaan masa depan bangsa jika anak lebih cenderung hura-hura, pesta pora sampai pagi, keluyuran tak menentu, santai ria dengan narkoba, dan penyakit modern lainnya. Dan satu lagi mereka tidak takut mati hanya karena bekal amal kebaikan yang sedikit.

Oleh karena itu bagi yang peduli dengan masa depan, JANGAN MALAS!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 33 pengikut lainnya.